Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Delapan Anggota OPM di Kiwirok Ikrar Setia kepada NKRI, Serahkan Senjata dan Bendera Bintang Kejora, Harapan Baru bagi Perdamaian Papua

Gambar
  Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan — Delapan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap XV/Ngalum Kupel di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan, secara resmi menyatakan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam prosesi tersebut, mereka juga menyerahkan sejumlah senjata api serta bendera Bintang Kejora yang selama ini mereka miliki. Prosesi ikrar kesetiaan berlangsung di Lapangan Distrik Kiwirok pada 10 Juni 2026 dan dihadiri oleh unsur TNI, pemerintah distrik, kepala kampung, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga dari 12 kampung yang berada di wilayah Kiwirok. Momentum tersebut dinilai sebagai langkah penting dalam upaya memperkuat perdamaian, stabilitas keamanan, dan pembangunan di wilayah Papua Pegunungan. Warga yang hadir menyambut peristiwa tersebut dengan penuh harapan terhadap masa depan yang lebih aman dan sejahtera. Kronologi Ikrar Kembali ke N...

Tokoh Pemuda Papua Dukung Pendekatan Humanis dan Penegakan Hukum Satgas Operasi Damai Cartenz, Dinilai Perkuat Stabilitas dan Kepercayaan Masyarakat

Gambar
  Jayapura, Papua — Tokoh pemuda Papua, Gifli Buinei, menyampaikan dukungannya terhadap pendekatan humanis yang dijalankan Satgas Operasi Damai Cartenz (ODC) dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Papua. Menurutnya, kehadiran aparat yang tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga aktif membantu kebutuhan sosial masyarakat, menjadi langkah penting dalam membangun kepercayaan publik dan memperkuat stabilitas daerah. Gifli menilai bahwa berbagai kegiatan kemanusiaan yang dilakukan aparat di tengah masyarakat menunjukkan komitmen negara untuk hadir secara nyata dalam mendukung kesejahteraan warga Papua. Pendekatan yang mengedepankan dialog, komunikasi, dan pelayanan sosial dinilai mampu mempererat hubungan antara masyarakat dan aparat keamanan. Menurutnya, keamanan yang berkelanjutan tidak hanya dibangun melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui hubungan yang harmonis dan saling percaya antara masyarakat dan institusi negara. Pendekatan Humanis Dinilai Membangun Keperc...

Koops TNI Habema Amankan Tiga Kampung di Yahukimo Pasca Gangguan OPM, Pemerintah Perkuat Perlindungan Warga dan Stabilitas Papua

Gambar
Yahukimo, Papua Pegunungan — Komando Operasi TNI (Koops TNI) Habema melaksanakan operasi pengamanan di tiga kampung di Distrik Manggelum, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, setelah wilayah tersebut mengalami gangguan keamanan yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata TPNPB-OPM pimpinan Kopi Tua Heluka dan Dejang Heluka. Operasi yang dilakukan pada awal Juni 2026 tersebut bertujuan untuk memulihkan keamanan, melindungi masyarakat, serta memastikan aktivitas warga dapat kembali berjalan normal. Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam menjaga stabilitas keamanan dan mempercepat pembangunan di wilayah Papua Pegunungan. Menurut Koops TNI Habema, gangguan yang terjadi sebelumnya telah menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat dan menyebabkan sejumlah warga memilih mengungsi ke daerah yang dianggap lebih aman. Karena itu, aparat bergerak untuk memastikan kondisi keamanan kembali terkendali dan masyarakat dapat kembali ke kampung halamannya. Krono...

Sisa Amunisi OPM Meledak di Lanny Jaya, Remaja Pencari Kelapa Tewas, Aparat Tingkatkan Pengamanan dan Edukasi Keselamatan Warga

Gambar
Lanny Jaya, Papua Pegunungan — Seorang remaja bernama Endite Wea (18) meninggal dunia akibat ledakan yang diduga berasal dari sisa amunisi atau bahan peledak yang tertinggal di kawasan bekas markas Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan. Insiden tragis tersebut terjadi pada Minggu (7/6) saat korban bersama sejumlah warga sedang mencari kelapa hutan di sekitar lokasi. Menurut keterangan aparat, lokasi ledakan berada di kawasan yang sebelumnya diketahui sebagai bekas markas TPNPB-OPM Kodap XII/Lanny Jaya yang dipimpin Purom Okiman Wenda. Berdasarkan hasil pengamatan awal, sumber ledakan diduga berasal dari sisa bahan peledak atau amunisi yang tertinggal di wilayah tersebut. Peristiwa tersebut kembali menyoroti bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sisa-sisa amunisi dan bahan peledak yang masih berada di area bekas aktivitas kelompok bersenjata, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah pedalaman ...

SD Yapis Waghete I di Deiyai Terbakar, Kodam Cenderawasih Kecam Aksi yang Diduga Dilakukan Simpatisan OPM, Pemerintah Perkuat Perlindungan Pendidikan Papua

Gambar
Deiyai, Papua Tengah — Kodam XVII/Cenderawasih mengecam keras aksi pembakaran SD Yapis Waghete I yang berada di Kampung Waghete I, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, aparat menduga aksi tersebut dilakukan oleh simpatisan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Peristiwa yang terjadi pada Kamis dini hari itu mengakibatkan dua unit bangunan sekolah hangus terbakar, termasuk sembilan ruang kelas beserta berbagai perlengkapan pendidikan. Kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp2 miliar. Selain kerugian fisik, ratusan siswa yang selama ini menempuh pendidikan di sekolah tersebut juga terdampak karena kehilangan fasilitas belajar mereka. Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, menegaskan bahwa tindakan yang menyasar fasilitas pendidikan tidak dapat dibenarkan karena merugikan masa depan generasi muda Papua yang sedang menempuh pendidikan. Kronologi Dugaan Pembakaran Sekolah Berdasarkan hasil penyelidikan awal, aparat mene...

Film Pesta Babi Dinilai Bergeser dari Kritik Sosial ke Narasi Politik Papua, Pengamat Dorong Dialog Konstruktif dan Persatuan Nasional

Gambar
  Jakarta — Film dokumenter Pesta Babi kembali menjadi perbincangan setelah sejumlah pengamat menilai pola promosi, pemutaran, dan narasi yang menyertainya menunjukkan pergeseran dari sekadar kritik sosial menjadi isu yang berkaitan dengan narasi politik Papua. Penilaian tersebut disampaikan oleh pengamat politik Rico Marbun yang menyoroti perkembangan diskursus seputar film tersebut dalam berbagai forum publik. Menurut Rico, pada awalnya Pesta Babi dipandang sebagai bentuk kritik sosial terhadap berbagai persoalan pembangunan dan kondisi masyarakat di Papua. Namun, dalam perkembangannya, terdapat kecenderungan bahwa film tersebut digunakan dalam ruang-ruang diskusi yang mengangkat narasi identitas dan isu politik yang berpotensi memperlebar jarak antara Papua dan Indonesia. Ia menilai bahwa sejumlah narasi yang muncul dalam berbagai kegiatan pendukung film sering kali menempatkan Indonesia dalam bingkai kolonialisme atau penjajahan di Papua. Menurutnya, framing semacam itu m...